Cimahi – Mal Sepi Usai Situasi Situasi di beberapa pusat perbelanjaan Jakarta mulai menunjukkan penurunan aktivitas sejak beberapa hari terakhir.
Sejumlah pengelola mal mengaku merasakan dampak langsung dari situasi yang memanas di ibu kota.
Lonjakan ketegangan sosial-politik serta meningkatnya kekhawatiran keamanan menyebabkan masyarakat enggan keluar rumah.

Akibatnya, tingkat kunjungan ke mal turun drastis terutama pada akhir pekan yang biasanya ramai pengunjung.
Baca Juga : China Pamer Senjata Baru di Parade Militer Setara Dana Pertahanan RI
Beberapa tenant di pusat perbelanjaan bahkan mencatatkan penurunan omset hingga 50 persen dibandingkan hari-hari normal.
Para pelaku usaha ritel merasa cemas akan keberlanjutan bisnis mereka jika kondisi ini terus berlanjut.
“Biasanya hari Sabtu dan Minggu sangat ramai, tapi kemarin benar-benar sepi,” ujar manajer tenant fashion di salah satu mal besar di Jakarta Selatan.
Penurunan transaksi ini tak hanya dirasakan oleh ritel fesyen, namun juga sektor makanan dan minuman (F&B).
Gerai makanan cepat saji, restoran, dan kafe tampak lengang, bahkan pada jam makan siang dan malam.
Beberapa pengunjung mengaku memilih untuk berbelanja online demi menghindari risiko keluar rumah.
Situasi ini turut berdampak pada operasional karyawan di sektor ritel.
Banyak toko yang mulai menerapkan pengurangan jam operasional untuk menekan biaya operasional harian.
Beberapa bahkan mempertimbangkan untuk merumahkan karyawan secara sementara jika situasi tak kunjung membaik.
Pengelola pusat perbelanjaan juga mengaku kewalahan mengatur strategi agar pengunjung tetap merasa aman dan nyaman.
Penambahan personel keamanan dan pemeriksaan ketat di pintu masuk menjadi langkah
Selain itu, beberapa mal juga meningkatkan kampanye promosi online dan layanan pesan antar.
Namun, upaya ini belum mampu menutupi kerugian akibat turunnya jumlah pengunjung secara signifikan.
Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) mengonfirmasi adanya penurunan trafik pengunjung di hampir seluruh mal Jakarta.
Dalam pernyataan resminya, APPBI menyebut penurunan mencapai rata-rata 40-50 persen dalam seminggu terakhir.
Mereka berharap situasi bisa segera terkendali agar aktivitas ekonomi kembali normal.







