Shoppe Mall Shoppe Mall Shoppe Mall

Sederet Fakta Miris Oknum Guru Diduga Lecehkan Siswi SMK di Cimahi

Shoppe Mall

Cimahi – Sederet Fakta Miris Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh kabar memilukan. Seorang oknum guru di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kota Cimahi, Jawa Barat, diduga melakukan tindakan pelecehan terhadap siswinya sendiri. Kasus ini menjadi sorotan publik setelah keluarga korban melapor ke pihak kepolisian dan cerita tentang peristiwa itu tersebar luas di media sosial.

Kasus ini mengguncang masyarakat Cimahi. Bagaimana tidak, sosok yang seharusnya menjadi panutan dan pelindung bagi siswa justru diduga menjadi pelaku perbuatan tak senonoh. Berikut rangkaian fakta miris yang berhasil dihimpun terkait dugaan kasus tersebut.

Shoppe Mall

1. Berawal dari Keluhan Korban yang Murung dan Ketakutan

Sederet Fakta Miris
Sederet Fakta Miris

Baca Juga : 2 Pemuda Mabuk Keroyok 3 Orang di 2 Lokasi di Cibeber Cimahi

Kasus ini terungkap setelah orang tua korban menyadari perubahan perilaku putrinya yang mendadak murung, sering menangis, dan enggan berangkat ke sekolah. Setelah didesak dengan penuh kasih, korban akhirnya mengaku bahwa ia mengalami pelecehan oleh gurunya sendiri, yang mengajar salah satu mata pelajaran kejuruan.

“Anak saya sempat menolak sekolah selama seminggu. Setelah kami bujuk, dia akhirnya cerita kalau pernah dilecehkan oleh gurunya di ruang praktik,” ungkap ibu korban, dengan suara bergetar saat ditemui wartawan, Selasa (5/11).

Korban yang masih berusia 16 tahun itu disebut mengalami trauma berat dan kini tengah menjalani pendampingan psikolog dari pihak keluarga dan lembaga perlindungan anak.


2. Dugaan Pelecehan Terjadi di Lingkungan Sekolah

Berdasarkan laporan yang diterima pihak kepolisian, tindakan tak senonoh itu terjadi di dalam lingkungan sekolah, tepatnya di ruang praktik jurusan tempat korban belajar.

“Kami menerima laporan bahwa dugaan perbuatan tidak pantas dilakukan di ruang praktik saat korban sedang sendirian dan guru pelaku berpura-pura memberikan bimbingan tugas,” ujar Kapolres Cimahi AKBP Maritza Sulfi dalam konferensi pers, Rabu (6/11).

Peristiwa itu diduga terjadi pada akhir Oktober lalu, saat kegiatan belajar tambahan berlangsung setelah jam pelajaran usai. Guru tersebut diduga memanfaatkan momen ketika ruang sekolah sudah sepi.


3. Pelaku Sudah Dikenal Sebagai Guru Senior

Yang lebih mengejutkan, terduga pelaku diketahui merupakan guru senior di sekolah tersebut dan telah mengajar lebih dari 10 tahun. Ia dikenal cukup dekat dengan para siswa karena sering membantu mereka dalam kegiatan praktik.

Namun, di balik kedekatan itu, pelaku diduga menyalahgunakan kepercayaan dan posisinya untuk melakukan tindakan yang tidak pantas terhadap korban.

“Kami tidak menyangka. Orangnya terlihat baik, sering membantu siswa yang kesulitan tugas. Tapi ternyata ada sisi gelap yang tidak kami tahu,” kata salah satu guru di sekolah itu yang enggan disebut namanya.


4. Sekolah Diduga Lambat Menangani Kasus

Salah satu hal yang membuat kasus ini semakin memicu kemarahan publik adalah dugaan bahwa pihak sekolah sempat menutupi kasus ini dan tidak segera melapor ke polisi. Orang tua korban mengaku baru mengetahui kejadian itu setelah beberapa hari berlalu, karena korban takut dan merasa diancam oleh pelaku.

“Kami kecewa karena sekolah tidak segera bertindak. Katanya mereka sudah tahu sejak awal tapi memilih ‘menyelesaikan secara internal’. Ini bukan hal sepele,” ujar ayah korban dengan tegas.

Setelah tekanan dari keluarga dan masyarakat, barulah pihak sekolah melapor ke Dinas Pendidikan Jawa Barat dan Polres Cimahi untuk ditindaklanjuti.

Kepala Dinas Pendidikan Wilayah IV Jabar, Euis Kusmiyati, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan tersebut dan sedang memeriksa pihak sekolah serta terduga pelaku.

“Kami tidak mentoleransi tindakan pelecehan dalam bentuk apa pun. Bila terbukti, guru bersangkutan akan diberhentikan secara tidak hormat,” tegasnya.


5. Polisi Sudah Panggil Sejumlah Saksi dan Amankan Barang Bukti

Hingga kini, Satreskrim Polres Cimahi sudah memeriksa sejumlah saksi, termasuk korban, beberapa teman sekolah, guru lain, serta pihak manajemen sekolah. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti seperti rekaman CCTV, catatan kehadiran, serta percakapan pesan singkat antara korban dan terduga pelaku.

“Kami masih melakukan pendalaman. Barang bukti digital sedang diperiksa oleh tim forensik, untuk melihat apakah ada bukti komunikasi yang mengarah pada dugaan pelecehan,” kata AKBP Maritza.

Pelaku sendiri sudah diperiksa secara intensif dan untuk sementara waktu dibebastugaskan dari kegiatan mengajar hingga proses penyelidikan selesai.


6. Korban Mendapat Pendampingan Psikolog dan Hukum

Kasus ini kini juga mendapat perhatian dari Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Jawa Barat dan sejumlah lembaga advokasi perempuan. Mereka memastikan korban mendapatkan pendampingan psikologis dan bantuan hukum agar proses penanganan berjalan adil dan korban tidak mengalami tekanan.

“Korban masih trauma, sering menangis jika diminta menceritakan ulang kejadian. Kami minta semua pihak menjaga kerahasiaan identitasnya,” ujar Ketua LPAI Jabar, Rini Damayanti.

LPAI juga mendesak Dinas Pendidikan dan pihak sekolah agar lebih ketat dalam pengawasan perilaku tenaga pendidik, serta menyediakan saluran pengaduan aman bagi siswa yang mengalami pelecehan.

Shoppe Mall