Cimahi – Malamang di Festival Budaya Asap tipis mengepul dari deretan bambu yang tersusun rapi di sepanjang tepian Sungai Kahayan, Palangka Raya. Suara kayu terbakar berpadu dengan tawa dan sorak warga yang memenuhi lokasi acara. Pagi itu, suasana tampak hangat dan meriah — sebuah tanda dimulainya tradisi Malamang, salah satu kegiatan paling dinantikan dalam Festival Budaya Isen Mulang 2025.
Malamang, atau memasak lemang dalam bambu, bukan sekadar kegiatan kuliner biasa. Bagi masyarakat Kalimantan Tengah, terutama suku Dayak, lemang memiliki makna simbolis sebagai lambang kebersamaan, rasa syukur, dan penyambutan terhadap tamu atau hari besar. Dalam setiap acara adat, terutama menjelang perayaan besar seperti Isen Mulang, tradisi ini selalu menjadi bagian tak terpisahkan.
Aroma Tradisi di Tepi Sungai

Baca Juga : Tangis Ahli Waris Marsinah Saat Momen Pemberian Gelar Pahlawan Nasional
Pada gelaran Festival Budaya Isen Mulang kali ini, ratusan peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah turut ambil bagian dalam lomba Malamang yang digelar di area Taman Wisata Pelabuhan Rambang, Sabtu (9/11).
Setiap tim tampak sibuk mempersiapkan bahan: beras ketan, santan, daun pisang, dan bambu muda. Bambu-bambu berisi adonan itu kemudian disusun rapi dan dibakar di atas bara api yang telah disiapkan.
“Malamang itu butuh kesabaran. Tidak bisa asal bakar, apinya harus pas, kalau terlalu besar nanti gosong, kalau kecil bisa mentah,” kata Lilis Hartini (47), peserta asal Kabupaten Kapuas yang sudah tiga kali ikut lomba ini.
Selama proses pembakaran, para peserta bekerja sama mengatur posisi bambu, menambahkan bara, dan memutar lemang agar matang merata. Di sela kegiatan, alunan musik tradisional khas Dayak dan tabuhan gong terdengar mengiringi suasana.
Lemang, Simbol Persaudaraan dan Syukur
Bagi masyarakat Kalimantan Tengah, lemang bukan sekadar makanan. Dalam filosofi adat Dayak, lemang mencerminkan gotong royong dan kehangatan komunitas. Proses pembuatannya yang melibatkan banyak orang menggambarkan semangat kebersamaan dan kerja sama antarwarga.
“Tradisi Malamang ini sudah turun-temurun dari nenek moyang kami. Biasanya dilakukan saat menyambut tamu penting, pesta panen, atau hari besar keagamaan,” ujar Hendrikus Saman, tokoh adat Dayak Ngaju dari Palangka Raya.
Ia menjelaskan, bambu yang digunakan harus dipilih dari jenis tertentu — tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua — agar tidak mudah pecah saat dibakar. Setelah matang, lemang biasanya dipotong dan disajikan dengan lauk seperti ikan sungai, daging babi hutan, atau sambal rimbang.
“Kalau lemang dimakan bersama-sama, itu pertanda kehidupan yang damai dan saling menghargai,” tambah Hendrikus.
Peserta dari Berbagai Daerah
Lomba Malamang tahun ini diikuti oleh 20 tim dari 14 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah. Setiap daerah membawa keunikan masing-masing, baik dari cara membakar, bahan tambahan, maupun tampilan bambu yang dihias warna-warni.
Tim dari Kabupaten Murung Raya, misalnya, menambahkan daun pandan dan serai untuk memberi aroma harum khas. Sementara peserta dari Kotawaringin Barat menggunakan beras ketan hitam sebagai variasi modern, tanpa meninggalkan cita rasa tradisional.
“Kami ingin menunjukkan bahwa lemang bisa berkembang tanpa kehilangan makna aslinya. Ini bukan hanya kuliner, tapi warisan budaya,” kata Yuniarti, ketua tim peserta asal Pangkalan Bun.
Festival yang Jadi Identitas Kalteng
Festival Budaya Isen Mulang — yang berarti pantang mundur dalam bahasa Dayak Ngaju — merupakan agenda tahunan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang menampilkan kekayaan budaya daerah, mulai dari tarian, musik, kuliner, hingga permainan rakyat.
Dalam sambutannya, Pj. Gubernur Kalimantan Tengah, H. Nuryakin, menyebut Malamang sebagai kegiatan yang paling menggambarkan jiwa masyarakat Kalteng yang penuh semangat dan kekeluargaan.
“Tradisi ini adalah bentuk rasa syukur dan pengingat bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama masyarakat Kalteng. Melalui Festival Isen Mulang, kita ingin mengangkat budaya lokal agar semakin dikenal secara nasional dan internasional,” ujarnya.
Selain lomba Malamang, festival ini juga dimeriahkan dengan perlombaan perahu hias, tari tradisional, lomba manyipet (menyumpit), balogo, dan nyumpan (memasak makanan khas Dayak).
Antusiasme Warga dan Wisatawan
Ribuan warga Palangka Raya dan wisatawan domestik tampak memadati lokasi acara sejak pagi hari. Banyak di antara mereka sengaja datang untuk menyaksikan langsung tradisi yang kini jarang ditemui di luar perkampungan Dayak.
Aroma harum lemang yang terbakar bambu membuat suasana semakin menggoda. Tak sedikit pengunjung yang rela menunggu lama untuk bisa mencicipi hasil karya peserta setelah lomba selesai.
“Rasanya beda banget dibanding lemang biasa. Ada rasa asapnya yang khas dan teksturnya lembut. Saya baru tahu kalau bikin lemang itu ternyata ribet,” ujar Lina Putri (25), wisatawan asal Banjarmasin yang datang bersama teman-temannya.
Menjaga Warisan, Menguatkan Identitas
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menegaskan komitmennya untuk melestarikan tradisi Malamang sebagai bagian dari identitas budaya Dayak. Rencananya, kegiatan ini akan terus dikembangkan sebagai ikon kuliner tradisional yang bisa menarik wisatawan.
“Kita ingin generasi muda tahu bahwa lemang bukan sekadar makanan. Ada nilai gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan rasa syukur di dalamnya,” kata Kadisbudpar Kalteng, Sri Wulandari.
Ia menambahkan, ke depan tradisi Malamang akan digabungkan dengan program edukasi budaya di sekolah-sekolah agar anak muda ikut memahami proses dan maknanya.
Penutup: Bara Api, Bara Tradisi
Menjelang sore, aroma lemang yang matang memenuhi udara. Para peserta tersenyum puas ketika bambu-bambu berisi ketan dibuka satu per satu, memperlihatkan hasil kerja keras mereka selama berjam-jam.
Beberapa warga bertepuk tangan, sementara panitia menyiapkan penjurian untuk menentukan pemenang. Namun bagi banyak peserta, bukan kemenangan yang dicari, melainkan kebahagiaan bisa melestarikan tradisi leluhur.
“Selama api masih menyala dan bambu masih bisa berdiri, tradisi Malamang tidak akan padam,” ucap Hendrikus, menatap deretan bara yang mulai mengecil di tepi sungai.
Festival Budaya Isen Mulang tahun ini sekali lagi membuktikan bahwa Kalimantan Tengah bukan hanya kaya sumber alam, tapi juga kaya akan jiwa dan budaya. Di balik setiap bambu lemang yang terbakar, tersimpan nilai luhur tentang kerja sama, kebersamaan, dan rasa syukur yang menyalakan bara kehidupan masyarakatnya.







