Cimahi – Jejak Pembangunan Kolonial Kota Cimahi, yang kini menjadi bagian penting dari wilayah Jawa Barat, menyimpan banyak jejak sejarah peninggalan kolonial Belanda.
Tata kota Cimahi pada awalnya dirancang sebagai kota garnisun militer oleh pemerintah Hindia Belanda.
Fungsi utama Cimahi kala itu adalah sebagai pusat pelatihan militer dan tempat tinggal bagi tentara kolonial beserta keluarganya.
Karena peran strategisnya, Belanda membangun Cimahi dengan sistematis dan terencana, mengikuti pola tata kota Eropa.

Jalan-jalan di pusat kota Cimahi dibangun lurus dan lebar, memudahkan pergerakan militer dan kendaraan tempur.
Baca Juga : Gibran Tinjau Posko Pengungsi Banjir dan Berikan Bansos
Struktur blok kota dibagi rapi antara kawasan militer, permukiman, dan area pemerintahan.
Salah satu bangunan ikonik peninggalan Belanda di Cimahi adalah markas militer yang kini menjadi bagian dari Pusdikpom TNI AD.
Gedung-gedung tua peninggalan era kolonial masih berdiri kokoh, meski beberapa telah mengalami renovasi.
Banyak dari bangunan tersebut menggunakan batu bata merah tebal, langgam arsitektur Indische Empire Style, khas zaman Belanda.
Tidak hanya bangunan, sistem drainase dan jaringan jalan juga menjadi warisan fisik tata kota era kolonial.
Belanda sangat memperhatikan sanitasi dan pengelolaan air, terbukti dengan saluran air yang masih berfungsi hingga kini.
Beberapa jalan besar seperti Jalan Baros dan Jalan Gatot Subroto dulunya merupakan jalur utama militer Belanda.
Penempatan pohon peneduh di sepanjang jalan juga mencerminkan konsep kota taman (garden city) yang diadopsi Belanda.
Cimahi dirancang tidak hanya sebagai pusat militer, tetapi juga sebagai kota satelit penyangga Bandung.
Dalam konteks geopolitik kolonial, Cimahi berperan sebagai perisai pertahanan dan titik logistik antara Batavia dan Bandung.
Keberadaan rel kereta api yang menghubungkan Cimahi dengan kota-kota besar lain merupakan hasil kebijakan transportasi Belanda.
Stasiun Kereta Api Cimahi, yang dibangun pada 1884, adalah salah satu stasiun tertua di Indonesia.
Dengan ini desain klasik dan struktur besi-besi besar, stasiun ini menjadi bukti kemajuan teknologi kolonial masa itu.







